Kol. 1:9-10) G. Kedewasaan Penuh dalam Hubungan dengan Orang Lain Pada bait ketujuh puisi Kliping di atas, ia mengatakan demikian: Jika kau dapat berbicara kepada rakyat jelata dan mempertahankan kebajikanmu, Atau berjalan dengan raja-raja - tanpa kehilangan hubungan dengan rakyat biasa; Jika tiada musuh atau teman tercinta dapat melukaimu
Polaasuh orang tua adalah pola pengasuhan orang tua terhadap anak, yaitu bagaimana orang tua memperlakukan anak, mendidik, membimbing dan mendisiplinkan serta ; melindungi anak dalam mencapai proses kedewasaan sampai dengan membentuk perilaku anak sesuai dengan norma dan nilai yang baik dan sesuai dengan kehidupan masyarakat.
G Kedewasaan Penuh dalam Hubungan dengan Orang Lain . Pada bait ketujuh puisi Kliping di atas, ia mengatakan demikian: Jika kau dapat berbicara kepada rakyat jelata dan mempertahankan kebajikanmu, Atau berjalan dengan raja-raja - tanpa kehilangan hubungan dengan rakyat biasa;
1 Kedewasaan Penuh adalah saat kita berhenti berusaha mengubah orang lain, dan fokus untuk mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu. 2) Kedewasaan Penuh adalah ketika kita dapat menerima semua orang, seperti apa adanya, tanpa membeda bedakannya. 3) Kedewasaan Penuh adalah ketika kita memahami bahwa kebenaran yang diyakini orang lain itu
suatuproses membawa orang ke dalam hubungan yang dipulihkan dengan Allah dan membina mereka menuju kedewasaan penuh di dalam Kritus melalui rencana pertumbuhan yang intensional, sehingga mereka juga mampu melipatgandakan keseluruhan proses ini kepada orang lain" (Chan, 2014). Dari definisi di atas dapat
arti mimpi hanyut di sungai menurut islam. 24 Kelas X SMASMK Hidup kita tidak boleh dijadikan dangkal dengan sekadar memenuhi kebutuhan materi dan mencari kekayaan semata-mata, atau malah mengikuti nilai-nilai yang dipromosikan oleh banyak orang di dunia ini. Bacaan dari Surat Kolose mengingatkan, … supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah… Kol. 19-10 G. Kedewasaan Penuh dalam Hubungan dengan Orang Lain Pada bait ketujuh puisi Kliping di atas, ia mengatakan demikian Jika kau dapat berbicara kepada rakyat jelata dan mempertahankan kebajikanmu, Atau berjalan dengan raja-raja – tanpa kehilangan hubungan dengan rakyat biasa; Jika tiada musuh atau teman tercinta dapat melukaimu; Jika semua orang menghargaimu, tapi tak berlebihan; Kipling mengatakan, orang yang dewasa adalah orang yang bisa berbicara kepada rakyat kecil, namun tetap mempertahankan kebajikannya. Kalaupun ia bisa berjalan dengan raja-raja, hal itu tidak menjadikannya sombong dan berkepala besar. Rasanya tidak banyak orang yang bisa bertindak seperti ini. Di dunia kita bisa melihat hanya segelintir orang yang mampu bersikap seperti ini dengan tulus. Dalam sebuah perjalanan kampanyenya, ketika merasa lapar, Presiden Obama tidak segan-segan berhenti di sebuah restoran hamburger – makanan siap saji yang dianggap sebagai makanan murah. “OMG President Obama eats at South Miami burger joint,” Miami Herald, 20 September 2012. Ia tidak segan-segan makan di tempat murahan seperti itu. Orang yang dewasa dan matang kepribadian dan pemikirannya, pasti tidak akan canggung- canggung melakukan hal-hal yang di mata orang lain mungkin dianggap akan merendahkan derajat dan kedudukannya. Ia akan mampu memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama. Ia tidak kikuk bergaul dengan orang- orang kecil – termasuk mereka yang disingkirkan dan dilupakan masyarakat umum – atau pun berhadapan dengan orang-orang yang berjabatan tinggi. Diunduh dari http 25 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Di masa hidup-Nya di dunia, Yesus pun pernah melakukan hal seperti itu, makan di tempat-tempat yang sederhana. Ia pernah diundang oleh Simon, seorang Farisi yang kaya, untuk makan di rumahnya. Luk. 736-50 Namun di pihak lain, Ia pun tidak segan-segan duduk dan makan di antara para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mrk. 213-16 Dengan kata lain, Tuhan Yesus tidak membeda-bedakan orang. Bahkan sebaliknya, Ia berusaha mendekatkan diri dengan orang-orang yang disingkirkan oleh masyarakat, supaya dengan demikian mereka bisa diterima lagi oleh masyarakat, dan dengan demikian dapat diharapkan bahwa mereka bisa hidup seperti banyak orang lainnya. Inilah yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Surat Kolose di atas tentang pertumbuhan pribadi seorang Kristen, “…tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Kol. 415 Dengan berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh ke arah Kristus. Dan kalau Kristus sendiri bersikap terbuka kepada siapapun, maka kita pun terpanggil untuk bersikap terbuka kepada orang lain. Janganlah kita menjauhkan diri dari orang lain hanya karena mereka berbeda latar belakang suku, agama, kelas sosial, warna kulit, dll. Kedewasaan penuh yang kita lihat di dalam diri Yesus adalah kehidupan yang berfokus pada kepentingan orang lain, demi kemuliaan Allah. Itulah yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 23-4, “Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Apakah ini berarti orang Kristen tidak boleh memperhatikan kepentingannya sendiri? Sudah tentu tidak. Paulus ingin menekankan agar kita tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan orang lain. H. Rencana Hidup Saya
Jakarta - Kata-kata bijak tentang kedewasaan dalam hubungan bisa menjadi masukan buatmu. Pasalnya, kedewasaan diperlukan untuk membuat hubungan tetap berjalan. Satu di antara arti dari dewasa dari Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI Daring adalah matang tentang pikiran, pandangan, dan sebagainya. Kedewasaan dalam pandangan dan pikiran seperti itulah yang dibutuhkan dalam hubunganmu dengan si dia. Perlu ditekankan bahwa kedewasaan penting dalam cinta. Kedewasaan bukan hanya soal usia, tetapi soal kemauan untuk tumbuh dan berubah. Tanpa kedewasaan, cinta bisa gagal dengan cepat atau menjadi obsesi yang tidak sehat. Namun, ketika satu pasangan sudah dewasa, mereka dapat melewati pasang surut kehidupan bersama dan membangun ikatan yang kuat dan langgeng. Kamu bisa membaca dan memahami kata-kata bijak seputar kedewasaan untuk membangun kesadaran akan pentingnya bersikap dewasa ketika kamu menjalin hubungan dengan orang lain. Di bawah ini kumpulan kata-kata bijak tentang kedewasaan dalam hubungan, dinukil dari Thequotesberry dan Therandomvibez, Kamis 3/11/2022.Berita video highlights pertandingan fase grup Liga Champions 2022/2023, antara Bayern Munchen melawan Inter Milan, Rabu 02/11/22.Ilustrasi dibutuhkan kedewasaan dalam sebuah hubungan. Photo by RODNAE Productions from Pexels1. "Hubungan lebih baik ketika dua orang cukup dewasa untuk berkomitmen." 2. "Segera setelah kamu menemukan pasangan yang matang, kamu akan menyadari bahwa tidak ada yang salah denganmu." 3. "Hal terpenting dalam suatu hubungan bukanlah apa yang kamu dapatkan darinya, tetapi apa yang kamu masukkan ke dalamnya." 4. "Hubungan yang kuat membutuhkan pilihan untuk saling mencintai bahkan di saat-saat ketika kamu berjuang untuk saling menyukai." 5. "Kita dewasa dengan kerusakan, bukan dengan waktu." 6. "Kedewasaan tidak diukur dengan usia, itu adalah sikap yang dibangun oleh pengalaman." 7. "Ketika dua orang benar-benar saling mencintai, mereka selalu menemukan cara untuk membuatnya berhasil. Tidak peduli seberapa sulit itu." 8. "Sukses dalam hubungan jarak jauh dapat dipengaruhi oleh seberapa dewasa kamu sebagai individu dan sebagai pasangan." Kata-Kata Bijak tentang Kedewasaan dalam Hubunganilustrasi berpegangan tangan/copyright Unsplash/Alvin Mahmudov9. "Miliki hubungan yang cukup dewasa untuk duduk dan menjadi seperti “lihat, ini adalah masalah kita dan ini adalah bagaimana kita akan memperbaikinya." 10. "Jika kamu ingin bersama seseorang, kamu harus cukup dewasa untuk bertahan saat keadaan menjadi sulit. Hubungan tidak mudah." 11. "Hubungan yang tidak dewasa dimulai dengan 'Aku mencintaimu' dan berakhir dengan 'persetan denganmu'. Hubungan yang matang dimulai dengan 'Aku mencintaimu' dan berakhir dengan 'Terima kasih'." 12. "Orang yang tidak dewasa selalu ingin memenangkan pertengkaran, bahkan dengan mengorbankan suatu hubungan. Orang dewasa mengerti bahwa selalu lebih baik kalah dalam pertengkaran dan memenangkan suatu hubungan." 13. "Hubungan yang belum dewasa membuatmu menginginkan sesuatu; hubungan yang dewasa memberimu apa yang kamu butuhkan." 14. "Hubungan yang tidak dewasa adalah hubungan di mana orang terus-menerus bertengkar dan berbaikan, tanpa resolusi nyata yang terlihat." 15. "Ini bukan tentang siapa yang benar atau salah, ini tentang tumbuh dewasa dan belajar bagaimana mencintai satu sama lain." 16. "Kamu tidak bisa terus berdebat dengan seseorang dan berharap segalanya menjadi lebih baik. Itu namanya tidak dewasa."Kata-Kata Bijak tentang Kedewasaan dalam HubunganIlustrasi dibutuhkan kedewasaan dalam sebuah hubungan. Credit "Jika kamu tidak siap untuk tumbuh dewasa dan berada dalam hubungan yang matang maka kamu seharusnya tidak berada dalam hubungan itu." 18. "Cinta tidak berarti selalu setuju, tetapi kompromi dan negosiasi selalu memungkinkan. Pada akhirnya, saling menghormati adalah kuncinya." 19. "Cinta bukan tentang menemukan orang yang sempurna, ini tentang belajar mencintai dengan tidak sempurna." 20. "Hari terbesar dalam hidupmu dan hidupku adalah ketika kita bertanggung jawab penuh atas sikap kita. Itulah hari di mana kita benar-benar tumbuh dewasa." 21. "Cinta yang belum dewasa berkata Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu. Cinta yang dewasa berkata Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu." - Erich Fromm 22. "Ingatlah bahwa hubungan terbaik adalah hubungan di mana cintamu satu sama lain melebihi kebutuhanmu satu sama lain. "- Dalai Lama XIV 23. "Cinta yang dewasa adalah mencintai, bukan dicintai." - Irvin D. Yalom 24. "Bahkan cinta menjadi dewasa. Ini seperti bunga. Hargai saat ia mekar." - Hisaya NakajoKata-Kata Bijak tentang Kedewasaan dalam HubunganIlustrasi pasangan cinta. Credit "Ketika kamu mencari yang baik dalam diri orang lain, kamu menemukan yang terbaik dalam dirimu sendiri." - Martin Luther King Jr. 26. "Jika kamu tidak cukup dewasa untuk mengelola konsekuensi dari suatu hubungan maka kamu tidak dewasa untuk suatu hubungan." - Nitin Prajapati 27. "Kecemburuan adalah kebalikan dari mempertahankan dan menumbuhkan dalam suatu hubungan. Kecemburuan mencakup unsur ketakutan, kemarahan, kecurigaan, dan kontrol yang tidak memiliki tempat dalam hubungan yang matang." - Darrel Ray 28. "Cinta bukanlah cinta sampai itu tidak bersyarat." - Kate McGahan 29. "Cinta tumbuh dengan memberi. Cinta yang kita berikan adalah satu-satunya cinta yang kita simpan. Satu-satunya cara untuk mempertahankan cinta adalah dengan memberikannya." - Elbert Hubbard 30. "Cinta itu seperti petir, dan kedewasaanmu ditandai dengan sejauh mana kamu dapat menerima bahaya dan kekuatan dan keindahan cinta. - James Baldwin 31. "Cinta yang dewasa tersusun dan menopang; perayaan komitmen, persahabatan, dan kepercayaan." - H. Jackson Brown, Jr. 32. "Cinta bukanlah cinta yang berubah ketika perubahan itu ditemukan." - William Shakespeare Sumber Thequotesberry, Therandomvibez Silakan klik tautan ini untuk artikel dari berbagai tema lain.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Menyambung tulisan sebelumnya, Kedewasaan Emosional dan Kedewasaan Sosial, saya menyempitkan kedewasaan pada kedewasaan sosial. Sekali lagi, saya sekadar menanggapi tulisan Eddy Sutanto yang berjudul “Menuju Kedewasaan Intelektual dan Kedewasaan Spiritual”.Kedewasaan berkaitan dengan diri sendiri. Sosial berkaitan dengan orang lain. Ketika menjadi “kedewasaan sosial”, tentu saja diri sendiri berkaitan dengan ruang lingkup sekitar. Ruang lingkup sekitar dimulai dari lingkup kecil, yaitu rumah tangga atau keluarga terdekat. Lebih luas lagi adalah rumah tetangga RT, saudara-saudara, dan pergaulan terdekat. Semakin luas pada satu wilayah daerah lokal-regional. Meningkat lagi ke ranah nasional dan tulisan Eddy terdapat dua kedewasaan yang diunggulkan dalam ranah negara dan berkaitan dengan situasi Pemilihan Presiden Pilpres 2014, yaitu kedewasaan intelektual dan kedewasaan spiritual. Sementara kedewasaan emosional sempat diabaikannya seperti yang tertulis, “Kedewasaan intelektual, tentunya berkaitan erat sekali dengan logika berpikir, bukan dipengaruhi oleh emosional/ keinginan yang berlebihan, tapi cara berpikir haruslah didasari logika, dan tidak akan mempengaruhi emosi kita.”Mengenai kedewasaan spiritual, Eddy sempat menyinggung suatu sosok’ dan sosok lainnya’, yaitu “sesama manusia”. Saya persempit menjadi “manusia”. Kalau “manusia” hanya bersubstansi secara “intelektual” dan “spiritual”, adakah? Barangkali dalam diri Eddy hanya bersubstansi “intelektual-spiritual” tanpa “emosional”. Barangkali tidak saya abaikan adalah proses menuju kedewasaan intelektual dan spiritual. Mungkin kedewasaan spiritual dapat terjadi melalui proses pribadi individual, yaitu proses suatu pribadi memahami Penciptanya. Apakah proses tersebut kemudian tidak berhubungan dengan orang lain sebagai ejawantah manusia sebagai makhluk sosial? Tentu saja berhubungan, bukan?Lalu, ketika terjadi hubungan dengan orang lain, semisal tetangga, apakah kedewasaan spiritual itu cukup? Kalau orang lain itu tidak memiliki kedewasaan spiritual yang sama, lebih-lebih berbeda aliran spiritual, bisakah terjalin suatu hubungan yang selalu harmonis dan seterusnya apalagi menyangkut pergaulan dalam negara?Lalu, proses menuju kedewasaan intelektual. Apakah batasan atau ukuran “intelektual” tersebut? Kalau hanya seorang diri, sejauh mana “manusia” bisa meraih kedewasaan intelektual tanpa adanya orang lain? Belajar sendiri di rumah tanpa pernah bersekolah?Barangkali saja kedewasaan intelektual Eddy diperoleh sendiri di dalam kamarnya tanpa pernah bersekolah. Tapi, apakah itu mungkin? Saya yakin, kedewasaan intelektual Eddy juga diperoleh dari bangku sekolah pendidikan. Artinya, selama bersekolah, Eddy pasti mengalami pendewasaan emosional-sosial bersama teman-teman sekolah dan barangkali tidak juga. Eddy tidak pernah bersekolah dan tidak mengalami proses sosialisasi dengan lingkungannya. Oleh karenanya Eddy hanya memahami “kedewasaan intelektual” dam “kedewasaan spiritual”. Tidak peduli pada “kedewasaan emosional” dan “kedewasaan sosial”.Hebatnya, dengan dua kedewasaan intelektual-spiritual tersebut, Eddy membahas persoalan yang begitu luas, yakni negara Indonesia. Saya tidak berani membayangkan jika kedewasaan spiritual-intelektual diunggulkan dalam suatu pergaulan antarmanusia tanpa mengindahkan emosional perasaan orang lain dan sosial lebih dari seorang lain. Istilah “tenggang rasa”, “tepa selira”, “solidaritas”, “empati” dan sejenisnya, dari tulisan Eddy itu, seolah tidak diperlukan sebagai realitas “manusia” dan “negara” negara Indonesia.Menurut saya, pernyataan Eddy bahwa “Momen saat ini, adalah momen bersejarah bagi bangsa Indonesia, memilih Presiden dengan cara yang sangat demokratis, dimana tidak tercermin hal seperti di Indonesia di Negara-negara tetangga kita” sangat bertolak belakang kontradiktif dengan fokusnya pada “kedewasaan intelektual” dan “kedewasaan spiritual”. Mengapa? Jelas, kata “bangsa”, “demokratis”, dan “negara-negara-negara tetangga” itu sudah terlepas dari diri sendiri individual dan merupakan suatu lingkup sosial pergaulan antarmanusia.Suatu realita di Indonesia, terdapat beberapa orang yang sudah dewasa secara spiritual-intelektual tetapi dengan lantang mengobarkan “perang Badar”, atau “memfitnah” melalui media massa hingga “tindakan anarkis-berdarah” terhadap “manusia” lainnya semacam “Yogyakarta Berdarah”, atau minimal kasus “melempar handphone”. Mengapa hal itu terjadi? Bukan mustahil akibat tidak mengalami kedewasaan emosional dan sosial. Tidak ada empati, belas kasihan, tenggang rasa, dan rasa berkaitan dengan Pilpres 2014 ini, hubungan “manusia” Indonesia tidaklah cukup berhenti pada “kedewasaan intelektual-spiritual”. Pemahaman kedewasaan intelektual mengenai ke-Tuhan-an kedewasaan spiritual tidaklah cukup hanya sebatas “sesama agama” atau “sesama pendukung capres”, bukan?Dan, menyinggung kata “Indonesia”, sangat jelas berkaitan dengan “sesama bangsa-warga negara” yang ber-bhinneka tunggal ika. Artinya, untuk kepentingan berbangsa-bernegara apalagi dalam suasana Pilpres sekarang ini, sangatlah diperlukan kedewasaan emosional dan kedewasaan sosial, selain kedewasaan dengan kedewasaan yang lengkap kedewasaan intelektual-spiritual-emosional-sosial, persoalan kebangsaan dan nasional, tentu saja, akan lebih mudah disolusikan. Bersama sebagai sesama bangsa Indonesia ini jelas merupakan kedewasaan sosial, niscaya kebaikan dan kemajuan Indonesia bisa benar-benar diperjuangkan dan diwujudkan, meski tidaklah bisa langsung sempurna dalam waktu satu-dua minggu sejak seseorang terpilih menjadi presiden Republik Indonesia.*******Sabana Karang, 2014 Lihat Catatan Selengkapnya
50 Kelas X SMASMK tertentu, tas tertentu yang bermerek, dll. Atau ada pula iklan yang mengatakan bahwa laki-laki akan menjadi perkasa apabila ia mengisap rokok tertentu, dan perempuan akan menjadi anggun bila ia melakukan hal yang sama. Sudah tentu, pendapat seperti itu tidak benar, karena rokok sesungguhnya berisi berbagai zat beracun yang sangat berbahaya dan bisa menyebabkan penyakit kanker yang membawa kepada kematian. Ajaran sesat lainnya adalah hedonisme, ajaran yang menganjurkan agar kita menikmati segala kenikmatan jasmani, i sik, dll. Misalnya, menikmati makanan dan minuman yang serba mahal, berpesiar ke luar negeri, berbelanja pakaian atau tas yang bermerek terkenal, berfoya-foya, dll. Orang-orang yang termakan dengan pikatan seperti ini seringkali kemudian disadarkan bahwa kemampuan keuangan mereka ternyata tidak memadai. Akibatnya, banyak orang yang kemudian terjerumus ke dalam praktik korupsi. Itulah yang terjadi di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini. Pelajaran ini dimaksudkan untuk mengarahkan nilai-nilai yang dipegang oleh para peserta didik, agar mereka tidak begitu saja terpengaruh oleh materialisme, hedonisme, dan pemuasan kebutuhan i sik yang sesaat saja. Para peserta didik – dan kita semua – perlu belajar bagaimana hidup dengan apa yang ada pada kita, tanpa harus berutang kepada orang lain, atau bahkan mendorong orangtua supaya korupsi. D. Kedewasaan Penuh Lewat bahan pelajaran ini peserta didik diajak untuk belajar mengarahkan hidup mereka kepada suatu kedewasaan yang penuh, yaitu kedewasaan yang tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan pada hidup yang berorientasi kepada orang lain. Inilah yang disebut sebagai altruisme, yaitu hidup yang tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan pada keinginan untuk mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan orang lain. Tuhan Yesus memperlihatkan hal ini lewat kematian-Nya pada kayu salib, seperti yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 25-11, 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat Diunduh dari http 51 Buku Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 11 dan segala lidah mengaku “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa E. Penjelasan Alkitab Efesus 411-15 Surat Efesus 414-15 yang mengingatkan kita bahwa orang yang dewasa tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengaruh atau ajaran yang palsu, seperti yang saat ini semakin banyak bertebaran di mana-mana. Dalam SabdaWeb, dijelaskan bahwa Surat Efesus ini kemungkinan ditulis sekitar tahun 62 M. Ini adalah salah satu puncak dalam penyataan alkitabiah dan menduduki tempat yang unik di antara surat-surat Paulus. Surat ini memberikan kesan akan luapan penyataan yang melimpah sebagai hasil dari kehidupan doa pribadi Paulus. Paulus menulis surat ini ketika dipenjara karena Kristus Ef 31; Ef 41; Ef 620, kemungkinan besar di Roma. Ada banyak persamaan di antara surat ini dengan surat Kolose. Mungkin Surat Efesus ditulis tidak lama sesudah surat Kolose. Beberapa teolog, seperti Frank Charles Thompson, setuju bahwa tema utama Surat Efesus adalah tanggapan kepada sejumlah orang Yahudi yang baru menjadi Kristen, yang seringkali memisahkan diri mereka dari saudara-saudara mereka yang berasal dari latar belakang non-Yahudi. Karena itulah tampaknya Paulus merindukan pertumbuhan jemaatnya di dalam iman, kasih, hikmat, seperti tersirat dalam Ef 115-17. Ia sungguh-sungguh menginginkan agar hidup mereka layak di hadapan Tuhan Yesus Kristus mis. Ef 41-3; Ef 51-2. Dua tema berikut ini tampak menonjol dalam Surat Efesus 1. Bersama menghidupkan kita bersama-sama Ef 25, membangkitkan kita, memberikan tempat bersama-sama 26, turut bersama-sama dibangunkan 222. 2. Satu, menunjukkan kesatuan satu manusia baru Ef. 215, satu tubuh 216; 44, satu Roh 218; 44, satu pengharapan 44, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. 45–6 Seperti yang telah dijelaskan di atas, pentingnya kesatuan jemaat itu mendapatkan tekanan yang sangat kuat. Itu hanya bisa terjadi apabila setiap Diunduh dari http 52 Kelas X SMASMK orang bisa berpegang teguh pada keyakinan yang telah mereka pelajari dan peroleh. Surat Efesus 414-15 mengingatkan bahwa orang yang dewasa tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengaruh atau ajaran yang palsu, seperti yang saat ini semakin banyak bertebaran di mana-mana. Kolose 17-12 Penjelasan singkat mengenai Surat Kolose sudah diberikan dalam penjelasan Surat Efesus. Penjelasan itu dirasakan sudah cukup memadai, karena tampaknya memang kedua surat ini ditulis dalam waktu yang hampir bersamaan dan diedarkan juga sebagai Surat-surat Am, sehingga tidak tertuju kepada penerima tertentu. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa Surat Efesus dan Kolose memang ditujukan kepada semua jemaat Kristen yang ada di daerah Mediterania pada waktu itu. Surat Kolose 17-12 ini berisi doa-doa Paulus untuk jemaat di Kolose. Paulus berharap agar jemaat itu menerima hikmat dan pengertian yang benar, dan dengan demikian hidup mereka akan layak di hadapan Tuhan. Dengan hikmat itu, mereka akan menghasikan buah yang baik dalam pekerjaan dan “bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah” Kol. 110. Kelanjutan doa ini berisi permohonan supaya jemaat di Kolose juga diberikan kekuatan untuk menanggung berbagai persoalan hidup =penderitaan?. Dengan demikian, maka mereka memang akan dianggap layak untuk “mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang” 112. Kembali di sini kita melihat bagaimana orang Kristen diharapkan bertumbuh hingga mencapai kedewasaan bukan hanya secara jasmani tetapi juga secara rohani. Dengan demikian maka diharapkan peserta didik juga mempunyai kerindungan untuk bertumbuh secara rohani. Pertumbuhan itu dapat terjadi apabila peserta didik rajin membaca Alkitab, berdoa, menjalin hubungan yang akrab dengan Allah Bapa dan dengan saudara-saudara seiman, sehingga mereka bisa saling menguatkan iman mereka. F. Kegiatan Pembelajaran
27 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti G. Kedewasaan Penuh dalam Hubungan dengan Orang Lain Pada bait ketujuh puisi Kipling, ia mengatakan demikian Jika kau dapat berbicara kepada rakyat jelata dan mempertahankan kebajikanmu, Atau berjalan dengan raja-raja – tanpa kehilangan hubungan dengan rakyat biasa; Jika tiada musuh atau teman tercinta dapat melukaimu; Jika semua orang menghargaimu, tapi tak berlebihan; Kipling mengatakan, orang yang dewasa adalah orang yang bisa berbicara kepada rakyat kecil, namun tetap mempertahankan kebajikannya. Kalaupun ia bisa berjalan dengan raja-raja, hal itu tidak menjadikannya sombong dan berkepala besar. Rasanya tidak banyak orang yang bisa bertindak seperti ini. Di dunia kita bisa melihat hanya segelintir orang yang mampu bersikap seperti ini dengan tulus. Dalam sebuah perjalanan kampanyenya, ketika merasa lapar, Presiden Obama tidak segan-segan berhenti di sebuah restoran hamburger – makanan siap saji yang dianggap sebagai makanan murah “OMG President Obama eats at South Miami burger joint,” Miami Herald, 20 September 2012. Ia tidak segan-segan makan di tempat murahan seperti itu. Orang yang dewasa dan matang kepribadian dan pemikirannya, pasti tidak akan canggung melakukan hal-hal yang di mata orang lain mungkin dianggap akan merendahkan derajat dan kedudukannya. Ia akan mampu memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama. Ia tidak kikuk bergaul dengan orang-orang kecil – termasuk mereka yang disingkirkan dan dilupakan masyarakat umum – atau pun berhadapan dengan orang-orang yang berjabatan tinggi. Di masa hidup-Nya di dunia, Yesus pun pernah melakukan hal seperti itu, makan di tempat-tempat yang sederhana. Ia pernah diundang oleh Simon, seorang Farisi yang kaya, untuk makan di rumahnya. Lukas 736-50 Namun di pihak lain, Ia pun tidak segan-segan duduk dan makan di antara para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Markus 213-16 Dengan kata lain, Tuhan Yesus tidak membeda-bedakan orang. Bahkan sebaliknya, Ia berusaha mendekatkan diri dengan orang-orang yang disingkirkan oleh masyarakat, supaya mereka bisa diterima lagi oleh masyarakat, dan dapat hidup seperti banyak orang lainnya. 28 Kelas X SMASMK Inilah yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Surat Kolose tersebut tentang pertumbuhan pribadi seorang Kristen, “…tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala Kolose 415 Dengan berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh ke arah Kristus. Kalau Kristus sendiri bersikap terbuka kepada siapapun, maka kita pun terpanggil untuk bersikap terbuka kepada orang lain. Janganlah kita menjauhkan diri dari orang lain hanya karena mereka berbeda latar belakang suku, agama, kelas sosial, warna kulit, dan lain-lain. Kedewasaan penuh yang kita lihat di dalam diri Yesus adalah kehidupan yang berfokus pada kepentingan orang lain, demi kemuliaan Allah. Itulah yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 23-4, “Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Apakah ini berarti orang Kristen tidak boleh memperhatikan kepentingannya sendiri? Sudah tentu tidak. Paulus ingin menekankan agar kita tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan orang lain. H. Rencana Hidup Saya
kedewasaan penuh dalam hubungan dengan orang lain